Gue bukan martir
Bukan pula amatir
Gue bukan pemimpin
Apalagi sekedar pemimpi I'm here to share perspectives Not just being contradictive
Gue emang gak suci
Tapi bukan berarti gue patut dibenci
Gelap langit malam terlihat melalui jendela kamar. Bintang tampak jarang bersinar. Ketika jendela dibuka, dinginnya terasa sampai menusuk sela rusukku, ruang kosong yang diambil untuk seseorang. Entah siapa. Entah penting atau tidak. Aku duduk di atas kasur. Memeluk guling di bawah selimut. Tidak bisa tidur. Padahal besok adalah hari pertamaku sebagai anak SMA. Masih kecil, tapi besar. Masih muda, tapi diharapkan bersikap dewasa. Usia yang membingungkan. Banyak hal terlintas di benakku. Seolah otakku dilempari berbagai macam sampah oleh fans penonton konser yang marah kepada band kesayangannya. Berisik. Dan seolah semakin berisik ketika aku beranjak dewasa. Semakin berisik ketika ayah dan ibu berpisah. Semakin berisik ketika aku berhasil diterima di sekolah yang akan kudatangi esok nanti. Di luar jendela masih gelap dingin. Bahkan pohon di depan kamar tidak terlihat. Ketika kuambil gelasku, tiba-tiba muncul cahaya yang tidak biasa. Satu bintang di langit berkedip terang. Diam terg...
Seringkali ketika kita memeriksakan diri sendiri atau keluarga kita, sang dokter hanya melakukan beberapa pemeriksaan dan ‘merujuk’ kita ke rumah sakit yang lebih besar. Pemeriksaan tersebut hanya berupa foto x-ray , pengambilan darah, atau hanya menempelkan stetoskopmya saja ke badan kita. Hanya memberikan obat pereda nyeri atau vitamin yang bisa kita beli sendiri di apotek, sang dokter lalu membuat surat rujukan dan kita diminta untuk mengantri ulang di rumah sakit lain. Bahkan kadang kita tidak diberi obat sama sekali. Seolah sia-sia kita telah membuang waktu dan uang untuk memeriksakan diri ke dokter tersebut. Pernahkah anda mengalami kejadian seperti itu? Mengapakah kita dirujuk sedemikian rupa? Benarkah yang dilakukan sang dokter memperlakukan seperti itu? Apakah merujuk berarti seorang dokter berusaha memberikan penatalaksanaan terbaik sesuai dengan penyakit kita, atau hal tersebut merupakan pelepasan tanggung jawab semata karena sang dokter kurang kompeten menangani p...
Beberapa minggu yang lalu saya resign dari sebuah pekerjaan dengan gaji 10 jutja/bulan. Selain karena tidak nyaman, pekerjaan tersebut membuat saya jauh dari keluarga besar. Saya takut ketika nanti istri hamil dan tidak bersama ibunya, tidak ada yang bisa mengurus istri saya. Saya pun meninggalkan pekerjaan tersebut dan pindah ke kota asal istri saya. Awalnya, ayah sang istri (mertua) merekomendasikan saya ke sebuah pemilik bisnis. Karena miskomunikasi antara mertua dan saya, saya kira saya akan dipekerjakan di bidang manajerial. Ternyata, setelah pindah kota dan bertemu dengan sang pemilik bisnis, saya jadi tahu bahwa sang pemilik bisnis ini ingin saya “bermitra” dengannya. Saya ditawarkan untuk menjalankan salah satu usahanya yang tidak jalan, tanpa gaji tetap. Prospek income per bulan saya di sana di bawah 5 juta. Karena merasa nominal tersebut tidak cukup untuk kebutuhan saya dan istri, serta karena saya belum siap mental untuk shifting menjadi seorang wirausahawan, tawaran terse...
Komentar
Posting Komentar