Minggu, 11 Desember 2016

Mungkin Nggak Perlu Khawatir Soal Karir

Aku selalu khawatir soal karirku.

Entah mengapa menurutku karir itu sangatlah penting. Bagiku karir adalah refleksi diriku. Karir menunjukkan kualitas diri. Karir adalah jati diri. Karir adalah pembuktian bahwa Allah swt tidak salah menurunkanku ke dunia ini. Kuyakin karir yang gemilang akan membuat orang tuaku sangat bangga denganku. Karir yang baik akan menjadi balas budiku terhadap dedikasi mereka membesarkanku selama bertahun-tahun.

Aku terlahir sebagai seorang anak yang selalu berprestasi di sekolah. Kalau aku membuat video 'Draw my Life' seperti yang pernah jadi viral video di youtube, mungkin isinya adalah prestasi-prestasi di sekolah. Saat SD aku selalu ranking satu. Saat SMP aku berhasil masuk SMA negeri favorit se-Surabaya, yaitu smala. Belum cukup dengan itu, aku juga diterima ke kelas akselerasi yang super eksklusif. Belum lagi piala-piala dan sertifikat yang kudapatkan. Ditambah dengan perawakanku yang pendiam, berkcamata dan suka membaca, orang pun selalu melihatku dengan imej 'anak pintar'. Kepribadianku yang INFJ (aku baru baca di internet beberapa hari yang lalu) pun menunjukkan bahwa aku adalah tipe orang yang sangat menghargai karir. Bagi orang sepertiku karir adalah segalanya dalam hidup ini.

Mungkin beberapa orang punya pendapat yang berbeda. Bagi beberapa orang kontribusi terhadap masyarakatlah yang terpenting. Semakin besar, banyak dan sering kita membantu masyarakat, maka semakin berhargalah kita.

Bagi beberapa orang lain masa depan adalah yang terpenting. Banyak orang bekerja mati-matian sekarang supaya mereka punya masa depan yang baik. Masa depan yang "aman" dan nyaman. Mereka menginvestasikan waktu mereka sekarang untuk kebahagiaan di masa tua. Mungkin tidak hanya kebahagiaan diri, tetapi juga bagi orang-orang yang mereka cintai.

Terakhir ada juga yang berpendapat bahwa yang terpenting adalah kebahagiaan. Setiap saat kita harus menikmati apa yang terjadi. Hidup hanya sekali, maka dari itu mereka terus mencari kebahagiaan-kebahagiaan baru. Mereka pun mencoba hal-hal baru, berpergian ke tempat-tempat baru dan berkenalan dengan orang baru. Hanya dengan begitu hidup mereka tidak stagnan dan mereka bisa merasakan 'hidup' setiap saat.

Sebenarnya masih ada banyak lagi hal-hal lain yang menurut orang penting. Namun di antara sekian banyak hal tersebut kita bisa melihat adanya kesamaan. Ya, kita sama-sama mencari HARGA. Setiap orang mencoba untuk membuat hidupnya merasa 'berharga'. Bagi kita hiduplah haruslah punya makna yang besar. Sebenarnya sudah banyak pembahasan tentang hal ini di luar sana. Mereka rata-rata menggunakan istilah 'value of life'.

'Value of life' akan menunjukkan sudah seberapa baikkah kita dalam menjalani hidup ini. Hal ini lebih tinggi daripada mendapat pengakuan dari orang lain. 'Value of life' merupakan penghargaan spiritual kita terhadap kehidupan. 'Value of life' pun menjadi alasan mengapa kita mau tetap hidup. Kita jadi termotivasi untuk terus belajar dan bekerja lebih baik lagi. Bahkan beberapa orang rela dipandang "jelek" di masyarakat hanya untuk mengejar sesuatu yang bagi mereka sangat penting, contohnya adalah artis di TV yang rela di-make up jelek dan berakting memalukan. Atau contoh yang jauh lebih buruk (menurutku sih) adalah seorang wanita yang merelakan tubuhnya dan menjadi seorang PSK.

'Value of life' ini beda lagi dengan 'passion' ataupun 'tujuan hidup'. Mungkin bedanya akan kujelaskan lain waktu. Namun dari sini kita bisa melihat bahwa 'value of life' tentu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap seseorang. Nah pertanyaannya sekarang, bagaimana jika seseorang kehilangan makna hidupnya? Bagaimana jika seseorang kehilangan harapan untuk mewujudkan sesuatu yang menurutnya sangat penting bagi hidupnya? Yap, benar sekali! BUNUH DIRI. Orang-orang seperti inilah yang bisa kita sebut depresi. Mereka seakan tidak punya lagi arah hidup. Mereka kehilangan ALASAN untuk bertahan hidup. Contohnya banyak, bisa karena ditinggal orang yang paling dicinta, bisa karena bangkrut dan takut tidak bisa menafkahi keluarga, terkena penyakit yang kronis, atau sekedar karena minder untuk menghadapi masyarakat. 'Depresi' sendiri secara klinis memang lebih rumit dari itu karena (diduga) punya banyak faktor resiko, level, penyebab, dsb. Namun secara umum bisa dibilang inilah alasan seseorang bisa jadi sangat depresi dan bunuh diri.

Mungkin karena itu aku galau gilak-gilakan pas salah jurusan (dan di dalam pun terbukti gagal).................

TAPI!!!

Seperti apa yang tertulis pada judul tulisan ini, mungkin aku nggak harus khawatir soal karir.....
Aku nggak seharusnya takut karena gagal merencanakan masa depan yang baik. Mungkin aku hanya perlu mengejar target hidup jangka pendek dulu (yaitu lulus sarjana). Nanti setelah lulus baru membuat target-target jangka pendek baru supaya aku tetap bisa bertahan hidup.

Atau mungkin pelan-pelan aku harus mencari makna hidup yang baru. Sesuatu yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan karir. Mungkin sesuatu yang lebih hebat dari itu atau bahkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Atau aku hanya harus percaya. Percaya kepada Allah swt bahwa jika aku setiap hari beribadah maka itu sudah cukup berharga bagi-Nya. Entahlah, tetapi yang jelas aku tidak boleh mati dulu karena..............








".....Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu."
(QS. An-Nisa 4: 29)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar