Kamis, 20 Oktober 2016

How I KILL My Mother!!!!!

Aku benci banget sama jurusanku.

Aku merasa ilmu yang diajarkan di sini tidak menarik dan tidak terlalu penting, terutama buat kehdupanku. Bakat dan minatku tidak cocok dikembangkan di sini. Nilaku memburuk, lulusku telat dan prestasi menurun dengan signifikan. Di dalam pun memang tidak enak. Kuliahnya berat serta orang-orangnya sombong dan lemah mental. Sedikit-sedikit minta dikasihani orang lain. Selain itu mereka hanya menjadi robot yang dibentuk untuk memakan apapun yang disuapkan ke mereka tanpa berpikir bahwa itu baik atau tidak. Pekerjaannya mulia, tetapi mayoritas bahkan tidak benar-benar peduli dengan kemanusiaan.
Beban kuliah seberat ini tidak sesuai dengan apa yang nanti aku capai di akhir. Ini bukan pekerjaan impianku. Aku tahu jika aku bertahan aku hanya akan berakhir menjadi pecundang.

Ini semua gara-gara ibuku. Pola pikirnya sangat konservatif dan hanya menganggap pekerjaan yang baik hanyalah satu, dan ia ingin aku menjadi hal tersebut. Mungkin ia juga menyesal karena tidak bisa menjadi seperti om dan tanteku yang tampak lebih enak hidupnya sehingga ia ingin aku “menggantikannya”. Aku sudah berulang kali mengungkapkan bahwa aku lebih suka menjadi hal lain, tetapi karena aku tidak jago berargumen jadi aku selalu kalah. Apalagi di SMA aku merasa tidak pintar sehingga aku tidak berani ‘berjanji akan sukses’ jika aku memilih jurusan lain. Aku pun hanya bisa mengikuti keinginannya.
Aku INGIN SEKALI ibuku tahu apa yang terjadi denganku di kampus. Aku ingin dia tahu kenyataannya. Aku ingin dia sadar bahwa aku sudah gagal yang mana berarti aku memang tidak cocok berada di sini. Aku hanya ingin ibuku mengerti!

Maka dari itu suatu hari aku pergi ke paranormal. Aku diberitahu temanku bahwa orang ini cukup terkenal dan temanku sendiri pernah berhasil mendapatkan cewek idamannya dibantu oleh dukun tersebut. Siang-siang sepulang kuliah aku mendatangi dukun tersebut. Sebelumnya aku sudah membuat janji dan aku dapat jadwal jam segitu. Setelah sampai dan menunggu beberapa antrian akhirnya aku pun masuk ke ruangannya. Sejujurnya ruangannya agak klise, seperti dukun di film-film: ada bunga dalam kendi berisi air, kain hitam menutupi seluruh ruangan, ada lilin-lilin yang menyala dan properti-properti lainnya yang menunjukkan bahwa dia paranormal. Setelah dipersilahkan duduk aku pun berterus terang menceritakan masalahku.

Dia tidak bicara banyak. Aku bukannya mendapatkan semacam nasihat, melainka aku disuruh mengambil sehelai rambut ibuku (dan beberapa hal aneh lainnya ayng tidak bisa kutulis di sini karena terlalu memalukan). Aku bertanya padanya apa yang akan dia lakukan pada ibuku dan dia hanya menjawab bahwa ia berusaha untuk menyadarkan beliau. Aku berpesan padanya agar tidak melukai dan menyiksa ibuku sama sekali. Ia berjanji. Akhirnya aku pun keluar, membayar uang konsultasi di bagian administrasi (yang ruangannya jauh lebih manusiawi) dan pulang ke rumah.

***

Sudah sebulan lebih setelah aku menyetorkan rambut ibuku ke dukun tersebut. Sejujurnya aku tidak melihat ada yang perubahan yang berarti. Ibuku baik-baik saja dan tidak pernah membahas apapun mengenai jurusanku. Satu-satunya hal yang berubah adalah aku suka demam akhir-akhir ini, terutama pas lagi kuliah. Mungkin karena kuliahku terlalu membosankan sampai aku terlalu sensitif dengan AC kelas. Iya, aku tahu tidak nyambung. Aku hanya berharap pertemuanku yang ketiga dengan sang dukun nanti sore akan menjawab kebingunganku ini.

Sekitar jam 5-an aku berada di tempat paranormal tersebut. Aku bertanya padanya apa yang sudah dia lakukan karena aku tidak perubahan apapun. Ia lalu memintaku menceritakan secara rinci dan kubilang bahwa tidak ada apa-apa sama sekali. Dukun tersebut lalu memintaku meminum sesuatu lalu menutup mata. Dia bilang ingin memperlihatkanku sesuatu. Ya aku nurut aja sih waktu itu. Seolah terhiptnotis perlahan-lahan tubuhku terasa semakin berat seakan mau jatuh. Seluruh tubuhku melemah. Tanpa sadar aku pun tertidur.

Beberapa saat kemudian aku pun terbangun. Aku tersengal-sengal karena kaget. Aku melihat dukun tersebut dengan perasaan campur aduk. Aku syok karena aku baru saja bermimpi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya...............

***

Aku melihat diriku sendiri sedang kuliah di kelas. Seolah-olah aku orang lain, aku melihat diriku dari sudut pandang orang ketiga. Seperti biasa aku tidak mendengarkan kuliah, melainkan sibuk menggambar hal-hal random di buku catatanku. Aku tidak ngobrol karena aku tidak punya sahabat yang bisa kuganggu saat jam kuliah. Setelah beberapa saat menggambar aku menelungkupkan kepalaku dan berusaha tidur. Seperti biasa......

Sesaat aku lalu sadar ibuku berdiri tidak jauh dari tempatku duduk, seolah-olah dia hantu. Dia sedang melihatku (yang sedang tidur) dari jauh. Sepertinya sih dia tidak melihat diriku yang sebagai orang ketiga. Aku melihat ibuku dan ia tampak tidak senang.

Seolah dipercepat aku tiba pada saat diriku melihat pengumuman ujian yang ditempel di lorong kampus. Aku sedang di sana bersama teman-teman dekatku. Aku juga melihat ibu di situ. Temanku bertanya bagaimana hasil ujianku dan kutunjukkan namaku di lembar pengumuman. Di sana tertulis aku mendapatkan nilai E, nilai terburuk. Kami tertawa-tawa karena, seperti biasa, tidak lulus ujian. Salah satu temanku nyeletuk betapa menyedihkannya diriku karena di antara absensi (anak-anak yang keterima karena undangan) hanya aku yang nggak lulus. Aku tertawa sekenanya. Ketika mereka meninggalkan papan pengumuman tersebut aku melihat diriku berjalan di belakang dengan tampak sangat murung. Aku pribadi baru sadar bahwa aku tampak sesedih itu. Aku lalu melihat wajah ibuku. Dia diam saja.

Aku lalu melihat diriku sedang naik motor dalam perjalanan menuju rumah. Hantu ibuku duduk di bangku belakang, menyimakku sedang berbicara sendiri sambil menangis. Aku ingat dulu aku sering ngomong sendiri pas naik motor di awal-awal masuk kuliah. Karena penasaran aku mencoba mendengarkan apa yang kucurhatkan.

Diriku bilang bahwa ia bingung kenapa bisa kuliah di sini. Ia hanya ingin membahagiakan orang tua karena dia tahu pepatah mengatakan ‘orang tua akan bahagia jika anaknya bahagia’. Diriku sadar bahwa ia tidak bahagia sekarang. Masa depannya pun suram. Ia tidak tega melihat ibunya sedih gara-gara dia gagal. Dia merasa sekeras apapun ia berusaha mengikuti kuliah, sekeras apapun ia mencoba, ujung-ujungnya dia selalu gagal. Ia selalu menjadi orang paling bodoh di jurusannya. Dan sekeras apapun ia mencoba untuk menyadarkan ibuku ia selalu kalah. Selalu salah. Ia merasa mungkin memang kisah hidupnya telah dirancang untuk tidak berakhir bahagia..........

Aku melihat ibuku dan dia tampak meneteskan air mata. Ia tampak sangat sedih mendengarkanku curhat seperti itu.

Aku berpindah tempat lagi. Terakhir aku melihat diriku sedang berada di kampus orang. Waktu itu aku sedang mengikuti seminar mengenai perfilman yang dihadiri oleh sutradara kondang favoritku. Aku melihat ibu duduk di sebelahku. Berbeda saat kuliah aku tampak sangat serius mendengarkan. Aku mencatat dengan rajin. Semua orang yang melihat tatapan mataku pasti mengerti bahwa aku sangat bersemangat siang itu. Aku sadar sudah lama aku tidak sesemangat itu, mungin tidak pernah sejak aku masuk kuliah. Bahkan ibuku tersenyum senang melihatku seperti itu.

Pada sesi tanya jawab seperti yang kalian duga aku pun mengacungkan pertanyaan. Sementara yang lain bertanya mengenai cara menjadi film maker yang baik atau apapun yang berkaitan isi presentasi barusan, aku menanyakan hal yang berbeda. Dengan mikrofon dari panitia aku pun berkata:

”Perkenalkan nama saya Andika. Saya mahasiswa kedokteran. Saya merasa salah jurusan dan ingin meyakinkan orang tua saya kalau saya mampu sukses di industri perfilman. Pertanyaan saya apakah profesi sutradara, terutama di Indonesia, adalah profesi yang menjanjikan?” Aku lalu tertawa kecil dan melanjutkan pertanyaanku sambil tersenyum,”Gaji sutradara itu berapa sih?”

Peserta seminar lain tampak tertarik mendengar pertanyaanku. Sang pembicara pun menjawab pertanyaanku tersebut dengan jawaban yang bagiku saat itu cukup memuaskan. Aku ingat aku senang sekali ketika tahu bahwa sutradara upahnya sangat besar dan punya berbagai macam proyek yang bisa dikerjakan. Aku ingat aku tetap tidak menceritakan pengalaman hari ini sesampaiku di rumah. Aku hanya senang sekali. Aku puas bahwa setidaknya aku punya masa depan “jika” aku banting setir masuk dunia perfilman. Semua terlihat di ekspresi wajahku siang itu.

Aku lalu mengintip wajah ibuku. Dia tersenyum. Dia tersenyum lebar sambil meneteskan air mata......

Semuanya pun mendadak gelap. Aku terbangun dari mimpiku.

***

Aku terbangun sambil tersengal-sengal. Aku berteriak,”DI MANA MAMA???” Dukun tersebut menjawab,”Ibumu baik-baik saja. Ini minum dulu.” Ia memberikanku air putih dan menenangkanku. Setelah aku tampak tenang sang dukun pun menjelaskan apa yang terjadi.

Dia meminjam salah satu bagian kesadaran ibuku. Hal itu membuat ibuku bermimpi melihatku di masa lalu. Hal itu masih berlangsung sampai sekarang. Konsekuensinya adalah beberapa waktu terakhir ini kesadaran ia melemah. Ibu yang kulihat sehari-hari bukanlah ibuku yang “sebenarnya”, melainkan hanya alam bawah sadarnya yang hanya bisa melakukan kegiatan sehari-hari.

Aku bertanya bisakah mengembalikan kesedaran ibuku seperti semula dan dia bilang bisa, tetapi ada syaratnya, yaitu sang dukun harus mengambil sebagian usia hidup ibuku. Dia tidak bisa memastikan ibuku umurnya akan berkurang beberapa hari ataupun beberapa tahun.Umur yang ia ambil nanti akan dijadikan energi untuk mengembalikan kesadaran ibuku. Jadi juga tergantung dengan seberapa kuat jiwa ibuku untuk mengembalikan kesadarannya sendiri. Jika dukun tidak mengurangi nyawanya, ibuku tetap bisa bangun, tetapi ia akan lupa segala mimpinya tentangku. Dengan kata lain sia-sia.

Aku bingung.....
Aku sadar aku harus membuat pilihan, antara menyadarkan ibuku atau menyelamatkan nyawanya.

Sejujurnya aku merasa kalaupun ibuku berumur panjang, tetapi ia melihatku tumbuh menjadi anak yang tidak sukses ia pasti tidak akan bahagia......

Tapi siapa sih yang bisa memprediksi masa depan......

Aku keluar sebentar dari ruangan tersebut dan sholat mahgrib di masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumah dukun. Aku meminta petunjuk kepada Allah swt atas apa yang harus kulakukan. Mungkin aku terlalu kebingungan waktu itu sampai aku tak sadar meneteskan air mata. Aku tidak peduli orang-orang melihatku terisak. Aku berbicara pada-Nya tentang segala hal yang kurasakan. Akhirnya sepulang dari sana aku pun sudah tahu apa yang harus kulakukan..................

***

Aku terbangun dari tidurku. Ternyata dosen sudah selesai mengajar. Aku pun membereskan tasku dan pulang. Hari ini kuliahku masih tetap membosankan seperti biasa. Aku mengendarai motorku di siang terik yang panas. Sudah beberapa hari ini aku tidak berbicara sendiri lagi. Aku diam dan hanya konsentrasi menyetir selama perjalanan pulang.

Setelah menerobos jalanan yang padat aku pun sampai di rumah. Kubuka pintu depan dan kulihat ibuku berada di dalam. Ia melirikku. Aku lalu disapanya dan dipeluk. Saat itu aku sadar aku telah membuat pilihan yang tepat. Aku membalas pelukannya yang selalu hangat. Aku berjanji tidak akan pernah menukarnya dengan apapun! Aku tak tahu apa yang akan terjadi NANTI pada hidupku. Namun kalaupun hidupku berakhir berantakan, aku melakukannya untuk ibuku. Aku tahu aku tidak akan bahagia karena mengorbankan hidup orang yang paling kusayang. Aku tidak peduli jika aku gagal. Aku hanya bisa berharap Tuhan bisa membuatnya bahagia. Mungkin kebahagiaannya bukan tanggung jawabku. Meski ibuku bahagia bukan melalui aku, bagaimanapun wanita hebat ini memang pantas hidup bahagia.

Amin.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar