Senin, 24 Oktober 2016

Air 2.4 (END): Bahuku Basah, Mataku Tidak

AIR 2.4: BAHUKU BASAH, MATAKU TIDAK
oleh Andika Hilman

Bukan aku yang memulai!

Aku hanya mengenal seseorang yang tidak akan pernah kulupakan wajahnya. Bahkan masih tersimpan dalam memoriku wanginya yang berbeda dari makhluk apapun. Aku tidak pernah sesemangat ini. Aku tertawa terbahak-bahak mengingat dirinya. Kamarku yang kosong menggaungkan perasaan yang aneh tersebut. Ingin rasanya kuambil pisau dan kugores sedikit pergelangan tanganku. Hanya supaya aku bisa menjilatnya atau mennumpakannya ke mana-mana sambil terus tertawa. Aku tidak pernah segila ini sebelumnya, sebelum bertemu dengannya. Inikah yang dinamakan cinta?

Hari itu aku menunggunya dengan kemeja putih yang hanya kupakai saat event terbaik. Bertemu dengannya memang event terbaik bagiku saat itu. Ia datang dengan terusan hitam dengan tas kecil berwarna cream, melengkapi tubuhnya yang putih dan mungil. Rambutnya pendek, seperti biasa, tetapi aku bisa melihat dia melakukan sesuatu yang berbeda. Ada kesan rambut berantakan, tetapi justru tampak sangat cocok dengan apa yang dia pakai. Untungnya dia tidak memakai lipstik berwarna merah menyala sehingga aku tidak perlalu terdorong untuk menciumnya begitu dia datang. Untungnya aku bisa menahan diri. Ia tersenyum melihatku, lalu dengan kode yang kami berdua langsung pahami kami pun berjalan menuju bioskop.

Aku pernah merasa seperti gelandangan saat beberapa kali masuk mall, tetapi penah juga merasa super pede dan super ganteng walaupun sedang belanja sendirian. Namun aku tidak pernah merasa sepede hari itu saat berdua dengannya. Aku tidak peduli jika ada pasangan lain, entah mungkin cewknya yang super modis atau cowoknya yang super macho. Aku tidak peduli! Aku merasa seperti pria paling bahagia di bumi ini! Seketika aku merasa sangat dewasa untuk pergi ke manapun, mengatakan apapun, atau melakukan apapun. Pikiranku hanya tertuju padanya.

Obrolan kecil yang tidak pernah bisa kuprediksi arahnya menemani kami menunggu pintu studio dibuka. Singkat cerita kami pun duduk dengan sebuah popcorn ukuran besar dan dua buah minuman. Aku membawa air mineral dan dia meninkmati minuman bersodanya. Kami menonton sebuah film Korea bertemakan zombie. Aku suka Korea dan dia suka zombie. Aku yakin film ini memang diciptakan Tuhan supaya kami bisa menonton berdua hari ini dengan akur.

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk mendownload film ini saat pulang nanti karena aku tidak bisa konsentrasi. Waktuku lebih banyak untuk menonton wajahnya daripad layar bioskop. Aku bukannya menikmati pengalaman dikejar-kejar mayat hidup, tetapi aku menikmati pengalaman duduk bersebelahan dengannya.... Memegang tangannya.... Tertawa dengannya.... Melihatnya tersenyum.....

Aku berharap ini bukan terakhir kalinya aku menikmatinya dalam hidupku.

Aku terlalu bahagia bersamanya sampai lupa mungkin dia bisa tidak suka denganku suatu hari. Mungkin suatu hari dia akan bosan. Mungkin suatu hari dia bertemu dengan orang yang lebih baik. Atau mungkin suatu hari semesta hanya ingin kami berdua berpisah. Aku tahu pada saat hari itu datang aku akan sangat menyesali keadaan. Aku akan terus menyalahkan diriku sendiri karena aku tidak akan ingin kehilangan dirinya. Aku tidak mau memulai segala perasaan ini dengan orang baru. Aku lelah. Aku lebih suka memilihnya.

Walaupun mungkin terlalu dini untuk berkata hal seperti itu........

Di penghujung film kulihat ia meneteskan air mata. Ceritanya memang cukup menyentuh (That's why I fucking love Korea!). Kumenoleh melihatnya lalu tersenyum simpati. Aku yang saat itu memajukan badanku lalu bersandar. Ia pun menyandarkan kepalanya di bahuku. Lalu entah hanya perasaanku atau tidak bahuku basah karenanya. Saat itu tiba-tiba aku merasa............

..........terganggu.

Aku kaget.

Baju kesayanganku......... Dia membasahinya.

Mengapa ia melakukan itu padaku?

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat itu aku hanya meredamnya. Singkat cerita kami pun pulang setelah filmnya berakhir dan makan malam sebentar. Aku senang bisa mengantarkannya naik motor daripada kami harus berpisah di tempat parkir. Setelah memakai helm ia pun naik ke atas motor. Tiba-tiba aku merasa 'berat'...............................

Aku kaget.

Beban di belakangku membuatku jadi lebih goyah saat menyetir.

Ada apa ini? Mengapa sangat menyebalkan sekali?

Namun aku berusaha menahan diriku. Aku sudah mengecek ban motor dan tidak ada yang kempes. Yap, cuma perasaanku saja. Kami pun berkendara dengan cukup aman sampai ke rumahnya.

Saat itu waktu sudah sangat larut. Mungkin karena terbawa suasana yang romantis kami berciuman. Namun aku merasakan sesuatu yang aneh.

Basah.............................

Apa ini?

Mengapa aku membenci hal ini?

Mengapa aku tidak bisa menikmatinya?

Mengapa aku bahkan memikirkan hal ini di tengah-tengah aku menciumnya?

Keadaan bertambah aneh ketika ia mulai menggigit ujung bibirku. Ugh.... Sakit!

Tajam sekali..... 'Apakah giginya taring semua?' pikirku. Padahal ini pertama kalinya aku menciumnya. Padahal ini pertama kalinya aku mencium seorang wanita. Mengapa aku tidak bisa menikmatinya? Padahal aku sudah tenggelam dalam permainannya. Mengapa aku merasakan sakit? Rasanya seperti dicabik-cabik di laut yang dalam dan gelap! Seolah-olah darah menyelimutiku dalam kesunyian dan dinginnya laut yang membekukan logikaku. Tubuhku terasa kaku seolah hiu telah menelan semua saraf-sarafku. Aku tidak diijinkan melakukan apa-apa.............

Sama seperti perasaanku ketika ia akhirnya masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkanku sendirian di atas motor. Aku tahu aku masih bisa menemuinya besok, atau lusa, atau hari ke depannya atau hari ke depannya lagi. Namun aku sadar cerita kami berdua tidak akan dimulai dalam waktu dekat. Aku masih harus menunggu, menunggu dan menunggu saaaaaaaaaaaaaangat lama untuk bisa mengalaminya dari awal sampai akhir, dari atas sampai bawah, dari kanan sampai kiri.




























Masih lama.



























Dan ia telah meninggalkanku yang telah kaku dan terkoyak ini dan memaksaku untuk terus berenang mengejarnya. Mengejar seekor hiu yang siap membunuhku bahkan sebelum aku sampai ke permukaan.

Inikah... Cinta?







[Baca serangkaian kisah Air 2 di:
1. Hiu Putih dan Kamu
2. Berkeringat Jahat
3. Cerita Lama
4. Bahuku Basah, Mataku Tidak (END)
dan Baca juga kisah Air 1: dan Mutiara]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar