Selasa, 27 September 2016

Do We Need Plan B?

Butuhkah kita rencana cadangan?

Kalo ada yg udah nonton film 'The Dark Knight Rises' (film ketiga dari trilogi TDK), mungkin ingat scene ketika Bruce Wayne (aka Batman) harus memanjat jurang yang tinggiiii banget. Sepanjang sejarah hanya ada satu orang yang berhasil memanjat sampai atas. Hal itu pun membuat Bruce optimis bisa berhasil memanjat, di samping ia harus segera sampai ke kota Gotham untuk mengalahkan musuhnya, Bane.

Spoiler alert. Bruce awalnya terus gagal, padahal ia merasa sudah kuat mental. Ia tidak takut pada ketinggian. Namun akhirnya tetua di situ menyadarkannya bahwa justru ia butuh ketakutan itu. Rasa takut akan memaksanya untuk berhasil. Maka ia pun memanjat tanpa tali yang menolongnya. Hal itu membuat Bruce 'terpaksa' harus survive apapun yang terjadi, kalau tidak ia akan mati. Sekali ia mati maka ia tidak bisa menyelamatkan Gotham dan filmnya pun habis dgn ending nggantung wkwkwk Benar saja, tanpa tali di tubuhnya justru Bruce bisa berhasil memanjat sampai atas. Ia berhasil karena urgensinya/tuntutannya untuk berhasil semakin besar.

Inilah yang mau kubahas: plan B. Perlukah plan B dalam hidup? Butuhkah kita rencana cadangan?
Kadang adanya plan B dapat menjadi excuse/alasan untuk tidak melakukan yang terbaik. Dengan sudah siapnya plan B kita jadi tidak takut gagal karena toh kita punya plan B. Kalau kita gagal dengan plan A, maka kita masih punya plan B. Bahkan ada yg menyarankan bahwa kita harus SELALU punya rencana cadangan. Jadi kalo plan B gagal, kita masih punya plan C--Z. Gilak, kebayang nggak tuh betapa "tenangnya" kita menghadapi hidup??

Di sisi lain, bergerak dengan rencana merupakan hal yang cerdas. Alih-alih langsung terjun ke lapangan, kita bisa menyusun dulu rencana dengan matang agar bisa menyelesaikan masalah dengan lebih cepat dan efektif. Enak kan kalo mau melakukan sesuatu ada gambarannya dulu? Dan tentunya enak ketika kita gagal kita sudah siap dengan plan B. Dengan plan B kita tidak perlu berhenti dan menyerah. Kita bisa lanjut berusaha sampai akhir.

Tapi sampai mana sih kita bisa memprediksi masalah? Sejauh apa juga strategi kita bisa efektif? Okelah kalo Sherlock Holmes bisa memperkirakan gerakan musuhnya saat berkelahi. Lah kalo kita?
Lalu apakah dengan begitu terjun langsung lebih baik? Masalahnya kadang kalau kita gagal hidup kita bisa hancur banget, contohnya memilih jurusan saat snmptn. Kalo kita nggak punya pilihan kedua dan kita gagal di pilihan pertama, tidak kuliahlah kita. Maka kita harus menunggu snmptn tahun depan dan itu nggak enak banget kan? Jika sebelumnya kita sudah punya plan B maka hidup kita mungkin nggak akan 'hancur-hancur banget' ketika akhirnya kita gagal.
Jadi.... Gimana dong ini? Perlukah kita plan B?

Ok, anggaplah kita beranggapan bahwa kita butuh plan B pada saat-saat tertentu saja. Beberapa momen mungkin kita butuh menghilangkan plan B supaya, seperti pada film Batman tadi, kita terdorong untuk menang. Tapi pada momen sepeti apa kita butuh plan B, dan kapan kita tidak butuh? Apakah kita butuh plan B ketika saat itu 'berbahaya' jika kita gagal? Padahal itulah tujuannya tidak punya plan B, yaitu supaya kita 'dipaksa' untuk berhasil....

Atau kalian memilih untuk tetap punya plan B, tetapi tidak terlalu bergantung dengan plan B tersebut. Apakah kalian yakin hal tsb akan berhasil? Sejauh mana otak kita akan menoleransi eksistensi plan B tersebut? Sejauh mana kita bisa berpura-pura tidak punya plan B?

Sebenarnya lucu juga jika kita tidak punya plan B. Bukankah itu berarti bayangan kegagalan justru semakin besar? Bukankah akan lebih rapuh jika kita maju dengan takut-takut? Justru dengan punya plan B kita jadi tidak takut gagal dan berani melakukan apapun, ya kan? Tidak juga?

Hmm... Sampai di titik ini aku terkesan kayak ngajak berantem. Hahaha... Padahal tentu tidak. Justru aku membiarkan kalian memilih jalan kalian sendiri. You decide!

Mau jadi tim Mystic yg selalu punya strategi silahkan. Mau jadi tim Valor yang fokus sama kekuatan dalam diri pun silahkan. Atau mau jadi tim Instict yang percaya pada kata hati? Boleh juga... Yang penting tetap main Pokemon Go yaaaah! (Lah ternyata ujung-ujungnya bahas pokemon go?! wkwkwk)

Intinya terserah kalian mau pake cara yg mana. Believe in yourself! Mungkin pertanyaannya sekarang adalah: Kita lebih sering memakai metode yang mana? Apakah itu cukup efektif dengan diri kita?

Mungkin memang tidak ada metode yang benar, tidak ada yang salah. Mungkin hidup tidak sehitam-putih itu.........







Tidak ada komentar:

Posting Komentar