Jumat, 15 April 2016

Senyum Bram

SENYUM BRAM
oleh Andika Hilman
(suntingan ulang dari notes Facebook berjudul sama yang diposting pada tanggal 20 Februari 2013)


"Hai!" Sapa pria itu. Begitu saja lewat di hadapanku. Aku hanya bisa tersenyum. Diam... sampai ia berlalu.

"Sial, sial, sial! Kenapa bilang 'hai' aja gak bisa sih?"pikirku kesal.

Kupandangi lagi pria itu. Punggung yang menjauh. Aku suka sama. Dari dulu. Aku suka senyumnya, seakan menyimpan suatu misteri di dalam hatinya. Pernahkah ia jatuh cinta? Percayakah ia jika aku bilang bahwa aku suka dia?

Ia berbelok ke arah lapangan. Ia berlari, langsung bergabung dalam permainan bola. Ia menyimpan kacamata dalam saku celananya. Matanya jadi begitu serius, mengejar bola, berlari sampai berkeringat. Rambutnya basah, silau terkena pancaran matahari.
Bram, do you know that I'm your secret admirer?

Aku hanya bisa duduk di sini, bersama teman-temanku, para perempuan yang mungkin juga sedang mengaguminya. Mengagumi pintarnya, kerennya, machonya..... Mengaguminya yang anak OSIS, mengaguminya yang juara lapangan... Ah, mungkin hanya itu yang perempuan ini pikirkan. Berbeda denganku.

Jantungku berdegup melihatnya. Sesak nafasku saat ia lewat. Ingin kumemeluknya. Punggungnya yang kuat. Ia yang pria. Ia yang baik hatinya. Ia yang ramah pada wanita. Yang pernah membantuku mengerjakan PR suatu hari yang lalu.... Yang membuatku tak bisa berhenti merindukannya.

Oh my heart, what has you done to me? Why is he so handsome....

Tidak!
Aku tidak boleh duduk saja di sini. Kalau aku mau mendapatkannya, aku harus bergerak. Aku harus tahu, apakah ia mau denganku. Ia harus tahu bahwa aku di sini mencintainya, rela aku dicintai olehnya. Hatiku telah dimilikinya. Aku harus bergerak!

"Tapi.... apa yang akan kulakukan ya?"tanyaku pada diriku sendiri.

Aku pun berdiri dari tempatku duduk. Selly, yang sedari tadi duduk tepat di sampingku, tiba-tiba bertanya,"Hei, mau ke mana?"

"Sebentar, aku mau ke lapangan," aku tersenyum.

"Ngapain bawa botol?"

Aku tidak menjawabnya. Aku buru-buru ke lapangan. Ah, kebetulan Bram sekarang sedang menjadi penjaga gawang. Aku pun berdiri di dekatnya.

"Hei…. Mm.. Bram!”kataku canggung,”Kamu mau minum?"

"Oh hei, Romi! Makasih ya! Kamu gak ikut main?"

"Nggak, Bram. Makasih." Aku tersenyum. Aku senang melihatnya barusan tersenyum.

Mungkin itu sudah cukup......



Tidak ada komentar:

Posting Komentar