Senin, 05 Oktober 2015

Everest [Comments Session]

Aku nggak pernah naik gunung sebelumnya.
Bagiku film adalah pengalaman. Ekspektasiku sebelum menonton film ini tidak terlalu tinggi karena aku membaca komentar beberapa orang yang sudah lihat seakan cuma memuji pemandangannya. Sebenarnya aku tidak ingin nonton film ini, tetapi nasib berkata lain. Aku berkesampatan menyaksikan film tentang perjalanan mendaki gunung ini di salah satu gedung XXI terbaik di Surabaya, tidak seperti biasanya.

Lalu bagaimana hasilnya?
Aku nangis. Jarang lho! :)

Sudah lama BANGET aku tidak nangis nonton film, apalagi di bioskop. Dan aku tidak menangis yang terisak-isak. Air mata itu mengalir begitu saja. Hal itu menandakan dugaan awalku salah. Bilangi aku lebay, tetapi film ini memang tidak hanya menjual pemandangan, melainkan menjual 'emosi'.

'Everest' bercerita tentang kejadian pada tahun 1996, tepatnya tentang 2 penjual jasa pemandu yang dipimpin oleh dua sahabat, Rob dan Scott. Karena ini film yang direka ulang dari kisah yang benar-benar terjadi, aku berharap tidak ada banyak drama ataupun kisah klise khas sebuah film. Benar saja, 'Everest' berhasil mendramatisasi kejadian nyata itu dengan sangat baik. Baik penceritaan, visualisasi, akting, dialog dan alurnya dimasak dengan sangat baik. Tanpa perlu terburu-buru, film ini mampu menceritakan semua hal yang penting untuk penonton simak tanpa menimbulkan rasa bosan.

Tidak akan ngantuk dan bosan jika kita bisa menontonnya dengan nyaman tentunya, seperti yang aku rasakan tadi. Aku tadi nonton sendiri (seperti biasanya) di gedung besar dan duduk di bangku G, jadi tidak terlalu dekat dengan layar dan juga tidak terlalu jauh. Untungnya hari itu gedungnya tidak berisik walaupun penontonnye berjumlah 10-20 orang saat itu. Aku sih bersyukur bisa nonton sendiri karena kalau tidak mungkin cuma hatiku yang akan menangis, mataku tidak. Hehehe...

Kekurangannnya? Ada banyak pendaki di film ini dengan muka 90% bule sehingga mungkin agak susah bagi orang Indonesia untuk mengingat nama, wajah dan karakter masing-masing. Namun tenang, tidak semuanya jadi tokoh utama jadi kita cukup mengingat karakter-karakter yang memang menonjol, seperti Rob dan istrinya, Doug the Mailman, Scott, Beck dan istrinya, dll. Selain itu, meskipun dialognya tidak membosankan, orang yang suka film bertempo cepat mungkin tidak akan suka film ini (tentunya).
Overall film ini keren banget! Meskipun Everest adalah gunung yang cukup terkenal dan tidak terlalu orisinil untuk diangkat ke layar lebar, tetapi apa yang disajikan langsung meluruhkan dugaan negatif itu. Seperti yang aku bilang di awal, film adalah pengalaman. Dengan sudut pandang dan kondisi yang tepat saat menontonnya (baca: di bioskop), 'Everest' mampu memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar sebuah pendakian gunung yang membosankan.

SPOILER ALERT! Mengapa aku bisa nangis? Sejujurnya aku tidak tahu pasti. Namun pastinya ketika beberapa orang mulai tidak kembali, badai besar datang dan ketika Helen serta istri Rob gelisah dengan kabar yang tidak jelas dengan pendaki yang kehabisan oksigen tersebut. Namun itu semua dibantu dengan suara gemuruh yang luar biasa dan didukung dengan sound system yang hebat dari Cinema XXI. Kebetulan studionya juga dingin dan aku membawa jaket, jadi aku beberapa saat benar-benar seperti sedang bersama mereka. Aku ikut bersimpati.

Saranku sih kalau mau nonton di rumah lebih baik pasang earphone atau speaker supaya bisa merasakan movie experience yang luar biasa. SPOILER END.




RATING: 9.4/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar