Kamis, 03 September 2015

Jenderal Soedirman [Short Review]


Judul: Jenderal Soedirman (2015)
Sutradara: Viva Westi
Pemain: Adipati Dolken, Ibnu Jamil
Sinopsis:
Belanda menyatakan secara sepihak sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville, sekaligus menyatakan penghentian gencatan senjata. Pada tanggal 19 Desember 1948, Jenderal Simons Spoor Panglima Tentara Belanda memimpin Agresi militer ke II menyerang Yogyakarta yang saat itu menjadi ibukota Republik. Soekarno-Hatta ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Jenderal Soedirman yang sedang didera sakit berat melakukan perjalanan ke arah selatan dan memimpin perang gerilya selama tujuh bulan. Belanda menyatakan Indonesia sudah tidak ada. Dari kedalaman hutan, Jenderal Soedirman menyiarkan bahwa Republik Indonesia masih ada, kokoh berdiri bersama Tentara Nasionalnya yang kuat.
Soedirman membuat Jawa menjadi medan perang gerilya yang luas, membuat Belanda kehabisan logistik dan waktu. Kemanunggalan TNI dan rakyat lah akhirya memenangkan perang. Dengan ditanda tangani Perjanjian Roem-Royen, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan RI seutuhnya. (sumber: cinema 21)



Karena ketinggalan nonton 'Tjokroaminoto' di bioskop beberapa bulan lalu, aku balas dendan dengan menonton film 'Jenderal Soedirman' ini. Tidak tanggung-tanggung, sebelumnya aku tonton dulu 'Gangster' sebagai film pembuka. Selain karena ini film tentang tokoh nasional, Adipati Dolken yang sudah kulihat aktingnya dalam 'Slank Nggak Ada Matinya' pun main di film ini. Aku sangat excited nonton film ini, tetapi bagaimana hasilnya? Mari kita langsung saja review film ini!

Aku yang tidak terlalu paham sejarah masih bisa mengerti dengan alur utama dalam film ini. Secara umum film ini menceritakan tentang perjalanan Jenderal Soedriman dan pasukannya dalam menyusuri hutan dan lembah saat perang gerilya. Pelajaran sejarah yang hanya bisa dibayangkan sewaktu SD dulu kini bisa kusaksikan nyata di layar bioskop. Tepat seperti apa yang pernah kubayangkan dulu. Film yang berhasil dieksekusi oleh sutradaranya ini mampu meyakinkanku bahwa film ini memang bagus. Tidak rugi aku nonton film ini di bioskop.


Ada kebahagiaan tersendiri melihat petualangan seorang Soedirman yang sakit keras, tetapi pantang menyerah dalam memimpin TNI demi mengusir Belanda. Sayangnya karakterisasi Soedirman membuatnya kurang "jenderal", bahkan sejak awal film. Kita tidak diyakinkan bahwa Soedriman ini adalah seorang tentara, yang kita tahu, pernah dilatih dengan sangat keras sehingga seringkali mempunyai watak sampai gesture yang keras. Namun untuk penghayatannya, Adipati tetap memainkan perannya dengan sangat baik. Begitu juga dengan Ibnu Jamil dan para pasukan lainnya.

Ada satu karakter yang menarik bagiku, tetapi sayangnya dianggap sebelah mata oleh media maupun para film makers-nya sendiri. Ia adalah seorang pencuri yang bergabung dengan pasukan Soedirman tanpa kemampuan apa-apa, yang meskipun komedik, akhirnya ia menjadi tokoh yang sangat berjasa dalam perjalanan pasukan gerilya Soedirman. Sayangnya aku lupa namanya dan tidak kenal orang aslinya :( Orang yang menjadi ujung tombak untuk mempromosikan film ini malah tokoh-tokoh yang tidak terlalu banyak keluar dalam film ini, tetapi lebih terkenal, seperti Mathias Mucus, Baim Wong, Nuggie dan Lukman Sardi. Kasus kayak gini bukan sekali terjadi. Sepertinya Indonesia harus belajar untuk lebih menghargai pihak-pihak yang berperan dalam sebuah film.

Satu lagi yang mau kukritisi dari film ini adalah subtitle-nya. FYI, film ini menggunakan subtitle bahasa Ingrris sepanjang film dengan tambahan subtitle bahasa Indonesia ketika dialog berbahasa asing. Bukan masalah translating yang tidak pas dengan artinya yang inginku komentari. Namun penempatan kedua bahasa subtitle yang ditaruh di bawah tanpa pembeda yang agak sedikit mengganggu. Bagaimanapun harus ada pembeda pada subtitle dengan bahasa yang berbeda karena kalau sama akan dikira menjadi satu kalimat yang bersambung. Aku pribadi lebih suka subtitle pada film 'Ayat-Ayat Cinta' yang dialognya ditulis dekat dengan yang berbiacara jika itu bahasa asing, dengan font yang berbeda pula. Ini salah satu pelajaran buatku jika suatu saat harus membuatfilm dengan subtitle dengan berbagai bahasa.


Meski menggunakan CGI yang belum "hollywood", film Jenderal Soedirman mampu membawa penontonnya bersama menyusuri hutan dan merasakan kelelahan para tentara gerilya. Adegan baku tembak dan ledakan lingkup kecil pun digarap dengan baik. Sebagai ulang tahun Indonesia yang ke-70, film ini mampu memberikan semangat kemerdekaan yang unik. Tidak hanya menggertak dan membakar semangat, tetapi dengan menghargai jasa para pahlawan yang memang pantas menginspirasi para generasi selanjutnya.

Bagi yang mau nonton film ini, kukasih tahu sebelumnya bahwa Jenderal Soedirman berusia 34 tahun dan menderita penyakit paru-paru basah dalam film ini. Info ini, entah aku yang luput atau bagaimana, tetapi baru muncul setelah filmnya selesai. Informasi ini cukup berguna mengingat kita akan menonton sambil membayangkan realita yang dulu terjadi. Aku yang tidak tahu fakta tersebut agak cukup dibuat resah selama film berlangsung. But still a very enjoyable movie tho. Selamat menonton! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar