Sabtu, 12 September 2015

Doea Tanda Cinta [Review]

Beberapa bulan yang lalu aku mencoba melepas penat setelah ujian. Aku pun datang ke bioskop yang paling dekat dari kampusku, yaitu Delta Plaza. Sayangnya hanya film Indonesia yang diputar di sana hari itu (padahal awalnya mau nonton 'Pitch Perfect 2'). Akhirnya aku pun memilih 'Doea Tanda Cinta' karena jamnya kebetulan pas. "Yah, daripada nonton horor, bolehlah..." pikirku.

Unexpected! DOEA TANDA CINTA ini memuaskan banget. Ini bukan film Indonesia yang jelek ataupun kurang bagus. Dari segi pengambilan gambar, dialog yang diucapkan, sampai eksekusi keseluruhan sungguh memuaskan. Hmm... Aku akan bahas film ini di bawah, tetapi aku mau bilang dulu kalau ini film bagus. Aku sering banget nonton film-film Indonesia yang jelek dan tidak memuaskan, baik di youtube, TV, maupun bioskop. Film DOEA TANDA CINTA ini tidak termasuk film-film tersebut. Not so recommended anyway, but it's worth it to watch if you want to watch an Indonesia movie for refreshing in this short time.

SINOPSIS (may contain spoiler)


Film ini bercerita tentang dua orang siswa suatu akademi militer yang mempunyai kepribadian yang bertolak belakang, yaitu Bagus (Fedi Nuril) dan Mahesa (Rendy Kjaernett). Bagus adalah seorang cowok kalem, tetapi sering berkelahi dengan preman yang mengganggu orang-orang di kampungnya. Sedangkan Mahesa adalah anak seorang tentara yang senang memberontak dan mempunyai kehidupan malam yang bebas. Keduanya bertemu di akademi militer dalam angkatan yang sama. Bagus menjadi seorang ketua kelas yang populer serta pintar, di mana Mahesa seringkali menghilang saat ada kegiatan dan beberapa kali mencoba untuk kabur. Setelah beberapa tahun, Bagus dan Mahesa yang lama tidak melihat wanita pun bertemu dengan Laras (Tika Bravani), seorang perempuan desa yang ceria dan polos. Mahesa berkata pada Bagus bahwa ia ingin menjalani hubungan dengan Laras, sedangkan Laras tampak lebih tertarik dengan Bagus. Akhirnya di medan perang, kedua pria bersahabat itu menemukan jawaban atas takdir dan tujuan hidup mereka masing-masing.
 OPINI SOAL CERITA

Harus kita akui bahwa alur ceritanya sederhana sekali. Simpel: cinta segitiga. Hal yang membuat film ini cukup menarik adalah kehidupan siswa akademi militer yang dijalani oleh tokoh Bagus dan Mahesa. Seru sekali melihat kehidupan militer yang keras dan kaku, tetapi dibalut dengan drama percintaan, persahabatan dan sedikit bumbu komedi. Sebagai film berlatar belakang militer, DOEA TANDA CINTA berhasil membuat penonton dalam studio tertawa, menangis sekaligus deg-degan oleh adegan action yang ditampilkan. Jika boleh dibandingkan dengan film Indonesia bertema "sekolah", bisa dibilang film ini lebih bagus dari NEGERI 5 MENARA (2012), tetapi belum lebih baik dari CATATAN AKHIR SEKOLAH (2005).

OPINI SOAL SUTRADARA


Informasi yang kudapatkan dari akun Linked In-nya, Rick Soerafani tidak mempunyai latar belakang militer sama sekali. Ia kebanyakan berkarir di pertelevisian nasional. Untuk film berlatar belakang militer dengan bumbu action, Rick tampak mampu mengeksekusinya dengan cukup baik. Beberapa adegan-adegan menegangkan khas film aksi berhasil ditampilkan, dengan catatan film ini sendiri bergenre roman. Sayangnya ada satu hal yang agak mengecewakan, yaitu adegan Bagus bertarung dengan musuh utamanya di hutan (may contain spoiler) yang terlalu cepat di cut. Padahal aku berharap adegan tersebut, setidaknya, dieksekusi seperti adegan-adegan (may contain spoiler) tembakan misterius yang ada di akmil. Untuk ukuran film drama berbumbu perkelahian, ada baiknya ada latihan koreografi untuk para aktor, meski memang tidak terlalu banyak dibutuhkan dalam film ini.

Ada 1--2 shoot dan adegan yang aku tidak terlalu sreg, tetapi mungkin Rick punya makna lain saat memutuskan. Namun secara umum shoot tersebut secara umum sangat rapi dan tidak mengganggu film. Hal yang paling menyenangkan justru berada di pembukaan film ini. Rick tampak tahu cara membuat penonton tetapi tinggal menonton filmnya dengan menampilkan adegan action yang menggangtung sebelum memulai film. Mengingatkanku dengan film AMERICAN SNIPER (2015) yang dibuka dengan scene yang sangat menyentuh sekaligus penuh membuat penasaran.

OPINI SOAL AKTOR


Tidak perlu diragukan lagi, Fedi Nuril mampu berakting baik sebagaimana biasanya. Dalam film ini pun, kita masih bisa melihat wajah lugu "Fahri" dalam AYAT-AYAT CINTA (2008). Sayangnya, karakter Fedi di awal film kurang begitu kuat sehingga penonton mungkin bingung melihat muka lugu tersebut memukuli preman di kampung. Namun pengalaman beraktingnya mampu mebuat jiwa tentara dalam adegan berperang tampak sangat meyakinkan. 

Berbeda dengan Rendy Kjaernett yang cukup meyakinkan membawakan karakter seseorang yang malas mengikuti kegiatan pembelajaran. Sayangya, lagi-lagi, di awal film karakter Rendy yang (seharusnya) nakal dan berani tiba-tiba hilang ketika dia masuk akmil. 

Chemistry antara Fedi dan Rendy pun tidak dibangun terlalu kuat dalam film ini, atau bisa jadi memang disengaja agar tidak memunculkan bromance dalam lingkup militer (yang sepertinya tidak mungkin). Padahal bromance itu tetap muncul dalam film ini, tetapi antara Fedi dan teman-temannya di akmil yang (ternyata) tidak berperan terlalu besar di inti cerita.

Akting yang memuaskan justru muncul di Tika Bravani yang berperan sebagai cewek "ndeso". Logatnya yang medok tidak tampak dibuat-buat, tidak seperti FTV yang kita biasa lihat. Chemistry-nya dengan Fedi juga mampu dibangun dengan baik, meskipun sedikit terkesan terburu-buru karena mereka berdua baru bertemu setelah separuh film. Scene paling menarik menurutku adalah (may contain spoiler) ketika Tika dan Fedi berduaan di akhir film. Dialog yang mereka ucapkan sangat romantis, meskipun dialog dramatis seperti itu tidak banyak ditemukan sepanjang film yang notabene bergenre drama.
KESIMPULAN

Sebelum meyakinkan kalian untuk menonton film ini, aku cuma mau bilang bahwa film ini menggunakan komputerisasi pada beberapa adegannya. Namun tidak seperti film Indonesia yang pernah aku tonton, komputerisasi yang digunakan cukup halus dan sangat sedikit. DOEA TANDA CINTA bahkan menggunakan helikopter asli yang benar-benar diterbangkan. Adegan terjun dari ketinggian pun benar-benar dilakukan. Lokasi yang digunakan pun benar-benar akmil dengan kamar, lapangan, istilah-istilah militer, sampai latihan-latihan yang dilakukan (mungkin). Begitu pula dengan figurannya yang sepertinya benar-benar seorang tentara yang (sayangnya) beberapa kali tertangkap basah tersenyum atau tertawa di depan kamera. Namun ketegasan mereka saat berdialog dapat menciptakan suasana militer yang pas bagi penonton awam.

Sebenarnya sangat sulit untuk tidak menemukan film drama dalam daftar film di negara kita. DOEA TANDA CINTA tahun ini datang untuk menjadi bagian dari film yang seringkali dihujat karena ketidakpantasannya ditayangkan di layar lebar. Film-film drama seharusnya cukup tayang sebagai FTV yang tidak berbayar, begitu pendapat sebagian orang. Namun film ini tampaknya mampu menepis pendapat tersebut. Setidaknya DOEA TANDA CINTA bukan sampah yang bisa dilewatkan begitu saja. DOEA TANDA CINTA jelas-jelas bukan film ecek-ecek yang membuat kita rugi membayar tiket, meskipun cuma Rp30 ribu. Setidaknya itu yang kulihat dari tawa serta air mata yang jujur keluar dari penonton dalam studio siang itu. Semoga berikutnya film Indonesia mampu membuat film-film yang sederhana, tetapi digarap dengan baik, layaknya film ini.
RATING: 4.5/10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar